Kamis, 26 Januari 2012

analisis novel sengsara membawa nikmat


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 latar belakang

Sastra merupakan salah satu seni kreatif yang dibuat unutk memenuhi batiniah dengan unsure keindahan yang ada didalamnya.Unsur keindahan sastra itu sendiri terletak dalam ungkapan bahasa yang menyenangkan sehingga menimbulkan rasa senang,nikmat,terharu,jengkel,menyegarkan perasaan dan menarik pehatian pembaca.Sastra tersebut dapat memberikan pengetahuan,pengalaman,pandangan,atau pengertian yang berkaitan dengan nilai kehidupan.

Satra dalam bentuk novel biasanya yang mengandung hal-hal bermanfaat bagi manusia dan kehidupannya.Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya.Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan kehidupan maka sastra merupakan suatu media untuk menyampaikan serta menampung ide,teori,atau sitem berpikir sehingga sastra menjadi wadah dalam menampaikan ide.Objek seni sastra adalah pengalaman hidup manusia terutama yang menyangkut social budaya,kesenian,dan system berpikir.Sedangkan pengalaman hidup merupakan dasar untuk memahaminya secara kreatif,maka menuangkannya dalam bentuknya yaitu segi-segi yang menyangkut cara penyampaiannya ,yaitu  cara sastrawan mengungkapkan sebuah karya sastra dalam bentuk cerita dengan menggunakan bahasanya

Sastra memiliki beberapa kelebihan dan keindahan yang teletak pada kesatuan dan keharmonisan,keseimbangan,individual,bahkan pada pertentangan unsure-unsur yang membangunnya

Pada novel sengsara membawa nikmat ini mengisahkan midun sebagai tokoh utama dalam novel ini.Konflik di batin midun karena terus dimusuhi oleh kacak,karena dia lebih terkenal di kampungnya,digambarkan terbuka dalam novel ini





Halaman 1

Bentuk novel ini masih konvensional sedang isinya yang menjadi tema pokok tentang permusuhan seseorang kepada midun. Dalam setiap kalimatnya penuh romantic,perjuangan dan cinta. Semuanya tertata dengan sempurna di novel ini,bagaimana seorang laki-laki bernama midun bisa menghadapi konflik yang ada di dalamnya.Dengan gaya bahasa yang ringan dan dilatar belakangi kehidupan minagnkabau yang tidak terduga oleh kita,takdir bisa menggambarkannya dengan baik kepada pembaca lainnya.

Alasan penulis memilih novel ini karena memiliki ciri tersendiri dibandingkan novel lain. Karena disini penulis dapat membaca kehidupan seorang laki-laki yang mengalami konflik dengan orang lain dengan bahasanya yang cukup hidup dan lincah.Soal yang dikemukakannya pun lain daripada yang lain,bukan mengunyah apa yang telah dikunyah orang    

1.2 Masalah Penelitian

1.2.1 Identifikasi Masalah
1)  Bagaimana nilai intrinsic dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati   
2)  Bagaimana nilai budaya dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati
3)  Bagaimana nilai moral dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati
4)  Bagaimana nilai agama dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati

1.2.2 Peabatasan Masalah
Pada identifikasi masalah tersebut penulis mengadakan pembatasan masalah,adapun pembatasan masalah adalah:

1)  Bagaimana nilai intrinsic dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati   2)  Bagaimana nilai budaya dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati
3)  Bagaimana nilai moral dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati
4)  Bagaimana nilai agama dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati







Halaman 2





1.2.3 Perumusan Masalah

Bersumber pada identfikasi dan spesifikasi permasalahan cukuplah rasanya bagi penulis  untuk mengambil sebuah rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1)  Bagaimana nilai intrinsic dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati  
2)  Bagaimana nilai budaya dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati
3)  Bagaimana nilai moral dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati
4)  Bagaimana nilai agama dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati

1.3 Metodeologi Penelitian

1.3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik analisis  data

1.3.2 Tujuan Penelitian

1)      Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui unsure intrinsic dan exstrinsik yang terdapat dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati  
2)      Tujuan Khusus
1)      Mencari data bagaimana unsure intrinsic dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati
2)      Mencari nilai intrinsic dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati  
3)      Mencari nilai budaya dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati                                                                                                  
4)      Mencari nilai moral dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati
5)      Mencari nilai agama dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati


Halaman 3
 
1.3.4 Teknik analisis data
Dalam penelitian ini,penulis menganalisis data sebagai berikut

1)      Membaca Novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati dengan teliti

2)      Mengetahui unsure intrinsic dan extrinsic dalam Novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati

3)      Mengambil pesan-pesan yang ada dalam Novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan sati
4)       Membuat kesimpulan




Halaman 4














BAB II
SINOPSIS dan BIOGRAFI
1.1  Biografi
 Tulis Sutan Sati dilahirkan di Bukittinggi, Padang pada tahun 1898 dan meninggal pada tahun 1942. Karyanya banyak yang diangkat dari kehidupan sosial masyarakat Minangkabau. Tema yang terdapat di dalam karyanya juga menyentuh tentang masyarakat Minangkabau. Novel-novel yang dikarang oleh beliau ialah Sengsara Membawa Nikmat(1928). Memutuskan Pertalian(1932),Tidak Membalas Guna(1932), dan Tak Disangka(1932). Novel Sengsara Membawa Nikmat dianggap karya yang paling bernilai dari karya Tulis Sutan Sati. Novel ini memperincikan tentang kehidupan masyarakat Minangkabau pada tahun 1920-an. Menurut A. Teeuw, novel ini sangat menarik kerana hidup dan lincahnya si pengarang membawa pembaca ke dalam suasana desa Minangkabau dengan kejadian sehari-hari dan segala reaksi manusiawi. Temanya berpusat kepada perantauan tokoh utamanya, Midun. Gambaran perantauan terasa lebih menampakan realiti seolah-olah peristiwa ini benar-benar terjadi pada zaman semasa novel ini dihasilkan. Beliau juga pernah menterjemahkan kaba Sabai Nan Aluih(1929) yang ditulis oleh M. Thaib Gelar St Pamuntjak dalam bahasa Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia.


   2.2 Sinopsis “Sengsara Membawa Nikmat”
Sengsara membawa nikmat karya Tulis Sutan Sati ini berkisah tentang dua orang pemuda, Midun dan Kacak yang saling bermusuhan. Midun anak miskin, berbudi baik, sopan, sabar, dan taat menjalankan perintah agama. Midun juga sangat pandai bermain silat. Sementara Kacak adalah anak seorang kaya, mamaknya menjadi penghulu Laras di daerah itu sehingga tak heran jika Kacak menjadi sombong dan bangga dengan kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya. Kacak juga selalu ingin menang sendiri dan tidak senang melihat orang lain yang melebihi dirinya. Melihat perbedaan dua karakter itu, wajarlah jika masyarakat lebih senang dan menghormati Midun dari pada Kacak.





Halaman 5


Karena Midun lebih disukai orang, Kacak menjadi sangat iri. Pangkal dari permusuhan di antara mereka, adalah karena Midun sangat disukai masyarakat sedangkan Kacak tidak. Sebaliknya, Kacak justru beranggapan bahwa penyebab ia tidak disukai dirinya oleh masyarakat adalah akibat hasutan Midun kepada masyarakat supaya membenci dirinya. Maka pertengkaran-pertengkaran pun tak dapat dielakkan.



Pada suatu hari Midun memukul roboh seorang laki-laki gila yang mengacau di pasar. Kesempatan itu dipergunakan oleh Kacak untuk mengadu kepada Tuanku Laras supaya Midun dihukum. Karena orang gila itu masih sekeluarga dengan Tuanku Laras, maka pengaduan Kacak itu diterima. Dan Midun pun dihukumlah.

 
    
Hukuman yang diterima Midun tidak membuat Kacak berhenti. Kacak masih sangat membenci Midun dan selalu mencari kesempatan untuk mencelakainya. Tidak jarang pula Kacak selalu mencari gara-gara untuk memancing agar Midun emosi dan menantangnya berkelahi. Berkat kesabaran Midun-lah semua pancingan Kacak tidak pernah ditanggapinya. Midun selalu ingat nasihat Haji Abbas guru mengajinya dan Pendekar Sutan seorang jagoan silat di Kampungnya. Midun beranggapa bahwa ilmu silat yang dimilikinya tidak untuk berkelahi dan mencari musuh, tetapi untuk membela diri dan mencari teman.

Suatu hari, istri Kacak terjatuh ke dalam sungai dan ia hampir terbawa arus. Pada saat itu, Midun yang sedang berada di dekat tempat kejadian berusaha menyelamatkan wanita itu. Namun pertolongan Midun ditanggapi oleh Kacak. Ia bahkan menuduh Midun akan memperkosa istrinya, sehingga Kacak justru menantang Midun untuk berkelahi.

Dalam perkelahian itu Midun berhasil mengalahkan Kacak. Kekalahan membuat Kacak semakin menyimpan dendam. Kacak melaporkan kejadian itu kepada Tuanku Laras. Ia memfitnah bahwa Midun hendak memperkosa istrinya. Tuanku laras percaya dengan laporan Kacak sehingga Midun mendapat hukuman bekerja di rumah Tuanku Laras tanpa upah.

Halaman 6

Selama Midun menjalani hukuman itu, Kacak ditugaskan oleh Tuanku Laras untuk mengawasi Midun. Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kacak. Kacak memiliki kesempatan yang besar untuk mencelakai Midun. Tiap hari Kacak menghina dan berlaku kasar terhadap Midun. Midun menerima semua itu dengan tabah.


Hingga di sini Kacak belum juga puas. Ia tidak rela jika Midun masih berada di kampung itu. Keberadaan Midun menjadi penghalang bagi kacak untuk berbuat sesuka hati di kampung mereka. Karena itulah Kacak terus berusaha melenyapkan Midun untuk selama-lamanya. Untuk itu, Kacak menyewa seorang pembunuh bayaran bernama Lenggang untuk melenyapkan jiwa Midun. Kesempatan terbuka bagi Kacak untuk melampiaskan nafsunya itu. Ketika Midun dan Maun sahabatnya sedang menonton pacuan kuda di Bukittinggi, secara tiba-tiba mereka diserang oleh Lenggang, perkelahian pun terjadi. Mereka kemudian ditangkap oleh tentara kompeni dengan tuduhan membuat huru-hara. Midun dan Lenggang dijatuhi hukuman penjara di Padang. Sedangkan Maun bebas dari tuduhan karena sengaja tidak dilibatkan oleh Midun dalam perkara itu.



Di dalam penjara Midun mendapatkan perlakuan yang tidak wajar. Begitu masuk ia sudah diadukan dengan Si Ganjil jagoan di penjara itu. Tetapi untung Midun dapat mengalahkannya. Sehingga seisi penjara menjadi segan terhadapnya. Walaupun begitu ia masih saja menerima perlakuan yang menyakitkan dari sipir-sipir penjara. Berkat nasihat-nasihat dari Gempa Alam sipir yang membawanya ke penjara itu, Midun akhirnya tabah juga menghadapi cobaan-cobaan hidup itu.

Ketika Midun sedang melakukan pekerjaan sehari-harinya yaitu menyapu jalan, ia menemukan seuntai kalung berlian. Temyata kalung itu milik seorang gadis bemama Halimah yang rumahnya tidak jauh dari penjara. Perkenalanpun terjadilah di antara mereka. Dan begitu Midun sudah selesai menjalani masa hukumannya, Halimah meminta kepada Midun supaya melarikan dirinya dari rumah. Karena dia hendak dipaksa oleh ayah tirinya seorang laki-laki Belanda yang sejak dahulu mengurus dirinya dan ibunya. Hasrat laki-laki Belanda itu dikemukakan setelah ibu Halimah meninggal dunia ketika Midun masih di dalam penjara.

Halaman 7

Atas pertolongan Pak Karto petugas bagian dapur penjara, mereka berhasil melarikan diri ke Jawa dan kemudian pergi ke Bogor menemui ayah Halimah seorang bekas pensiunan Wedana. Di sana mereka diterima dengan baik. Midun diminta tinggal di rumah itu. Namun lama kelamaan, Midun merasa malu tinggal di rumah itu bila hanya untuk menumpang makan dan tidur saja. Maka Midun memutuskan untuk pergi dari rumah itu mencari pekerjaan.
Midun mencoba mencari pekerjaan ke Jakarta. Dalam perjalanan ke Jakarta, Midun berkenalan dengan seorang saudagar Arab yang kaya raya, yang sebenarnya adalah seorang rentenir. Tanpa berprasangka buruk, Midun menerima tawaran Syekh itu yang akan meminjami uang sebagai modal. Dengan modal hasil pinjaman dari orang Arab itu, Midun membuka usaha dagang. Berkat ketekunannya, usaha Midun berkembang pesat sehingga membuat syekh Arab itu iri. Ia pun menagih hutang Midun dengan jumlah melebihi besarnya pinjaman Midun. Midun menolak karena hutangnya telah dihitung berlipat ganda. Gagal menagih Syekh menagih dengan cara lain, ia bersedia Midun tidak membayar hutang (dianggap lunas) jika Midun menyerahkan Halimah kepadanya. Tentu saja ini membuat Midun dan halimah marah. Akhirnya orang Arab itu mengadukannya ke Kompeni, dan Midun ditahan.


Selepas dari tahanan, suatu ketika Midun sedang beralan-jalan di pasar baru. Di sana ia melihat seorang pribumi yang mengamuk dan menyerang Sinyo Belanda. Ketika melihat Sinyo Belanda terdesak, Midun menolongnya. Sinyo Belanda selamat. Ternyata kemudian diketahui bahwa orang tua sinyo itu adalah Hoofscommissaris di Betawi. Dan sebagai tanda terima kasih, Midun ditawari kerja di sana sebagai sekretaris. Tak lama kemudian Midun mempersunting Halimah. Kerja Midun dipindahkan menjadi Menteri Polisi di Tanjung Priok.





Halaman 8

Ketika Midun sedang melaksanakan tugasnya ke Medan untuk melacak gerombolan pengedar candu, Midun bertemu dengan Manjau adiknya. Lewat adiknya Midun mengetahui bahwa ayahnya sudah meninggal, harta kekayaan peninggalannya sudah habis. Selain dipakai untuk hidup sehari-hari juga karena diambil oleh keponakan ayahnya yang merasa hak mendapatkan waris. Juga tingkah laku Kacak yang kini sudah menjadi Tuanku Laras menggantikan mamaknya, semakin menjadi-jadi. Manjau dan Miun yang kini sudah kawindengan adik Midun selalu menjadi sasaran kekejaman Kacak.


Sekembalinya ke Betawi, Midun mendatangi Hoofd-commissaris untuk mengutarakan keinginannya pindah ke Bukittinggi, dengan alasan mau bekerja di tanah kelahirannya. Pejabat itu mngijinkan. Maka kemudian Midun sekeluarga pindah ke Bukittinggi. Kebetulan oleh Assisten Resident Bukittinggi ia ditempatkan sebagai Assisten Demang di daerahnya. Tentu saja hal ini membuat kalang kabut Kacak musuhnya. Karena malu dan takut, kecurangannya menggelapkan uang negara terbongkar oleh Midun, akhirnya Kacak pergi meninggalkan daerah itu, dan tak pemah kembali lagi.

Setelah berkumpul kembali dengan seluruh keluarga dan para sahabatnya, mulailah Midun memerintah negeri itu dengan gelar Datuk Paduka Raja.


















Halaman 9
BAB III
UNSUR INTRINSIK

Dalam novel sengsara membawa nikmat karya tulis sutan sati terkandung beberapa unsure intrinsic seperti tema,amanat,tokoh,watak,alur,setting,sudut pandang dan gaya bahasa .berikut penjabaran dari unsure-unsur tersebut
1        .  Tema
Tema yang terkandung dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati adalah”Perjuangan seorang pemuda untuk merubah nasibnya”

2      . Amanat
                      2.1  Harus berterima kasih apabila diberi pertolongan
Kalimat pembuktian:”udo midun !” ujar halimah ,setelah kurang rasa takutnya “saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan udo kepada saya”(hal 119)
                      2.2  Jangan menuruti kemarahan
Kalimat pembuktian:”Midun berkelahi di pacuan kuda,dan apa yang menyebabkanya”(hal 87)
                   2.3  Kalau menerima sesuatu jangan menolaknya
Kalimat pembuktian:”janganlah orang kaya dan uni cemas ,sebab saya ada mendapat kalung itu,inikah kalung itu,uni?”(hal 108)
                   2.4  Harus menghormati adat istiadat setempat
Kalimat pembuktian :”begini waktu kenduri pada 12 hari bulan rabiul awal,bukankah engkau duduk ditempat saya?”(hal 10)
                   2.5  Jangan takut apabila kita benar
Kalimat pembuktian:”berani karena benar,takut karena salah”(hal 30)


Halaman 10



3        . Tokoh
3.1 Midun . Kalimat pembuktian:”Mdun ialah seorang muda yang baru berumur lebih kurang 20 tahun”(hal 11)
                     
3.2 Kacak . Kalimat pembuktian:”si kacak,kemenakanku tuan laras sudah datangkah?”(hal 9)

3.3 Halimah kalimat pembuktian:”ia maklum,bahwa surat itu dari halimah(hal 115)
                       
 3.4 Pak Midun kalimat pembuktian:”mula-mula pak midun bermufakat dengan pendekar sultan”(hal 25)
                
3.5 Haji Abbas : kalimat pembuktian: “manakala haji abbas terkejut dan menagnkap ranting kayu itu,saat itulah midun harus menyerang haji abbas ( hal 25)















Halaman 11

3.  Watak

Watak yang terkandung dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati adalah:

3.1 Midun
 - Sopan santun
Kalimat pembuktian :”Budi pekertinya sopan santun kepada siapa pun”(hal 12)

              -  Tabah
Kalimat pembuktian :”janganlah terlalu amat menyiksa saya,Engku Muda!kesalahan saya tidak seberapa,tidak berpandanan dengan siksaan yang saya tanggung”(hal 44)

              3.2 Kacak
               - Pemarah
Kalimat pembuktian :”sekonyong-konyong merah padam mukanya”(hal 17)

- Sombong
Kalimat pembuktian :”berapa kepandaianmu,saya lebih tinggi daripada engkau”(hal 15)

3.3 Haji Abbas
-     Arif/bijaksana
      Kalimat pembuktian   :”kalau ada temanmu yang sehati dengan engkau”(hal 53)



Halaman 11
-          Pemberani
Kalimat pembuktian:”rupanya waktu ma atang berkelahi dengan pendekar sultan,jelas bahwa ma atang hendak membunuh lawannya”(hal 61)
3.4 Halimah

-     Cantik
      Kalimat Pembuktian:”sungguh cantik dan elok rupanya,sukar didapat,mahal dicari”(hal 109)
-          Pandai
Kalimat pembuktian:”sungguh pandai adinda menahan hati”(hal 141)

3.5 Pak midun
-     Arif
      Kalimat Pembuktian:”sungguhpun ayah midun orang peladang tetapi sudah luas      pengetahuannya 
-          Ramah
Kalimat pembuktian:”pendekar sultan di persinggah oleh pak midun dengan murid-muridnya ke rumahnya”(hal 22)











Halaman 12


4. Alur/Plot

-          Alur maju
Kalimat pembuktian:”setelah dua bulan lebih daripada itu,maun terpanggil datang ke bukitinggi”(hal 83)
-          Alur mundur
Kalimat pembuktian:”karena sudah 4 bulan ia dihukum,belum pernah dipanggil sipir”(hal 115)





5.   Setting
Setting atau latar terbagi menjadi beberapa macam diantaranya, setting tempat,setting waktu dan suasana.Berikut penjabaran atas macam-macam setting tersebut yang terdapat pada novel Sengsara Membawa Nikmat karya tulis sutan sati

        5.1 Waktu      

5.1.1 Waktu Asar,
 kalimat pembuktian:”Waktu asar sudah tiba”. (hal 9)
                        
5.2.2Hari ahad pagi-pagi,
kalimat pembuktian:”Hari ahad pagi-pagi,Midun sudah memikul tongkat pengirik padi ke sawah”.(hal 27)
                   


Halaman 13
       5.2.3Malam hari,
kalimat pembuktian:”Sekali peristiwa pada suatu petang Midun pergi ke sungai hendak       mandi.”.(hal 43)

5.2.4Waktu maghrib,
kalimat pembuktian :”Rasakan dicabutnya hari menanti waktu maghrib  habis,karena itu anaknya pulang makan”(hal 28)



5.2.5Hari petang
,kalimat pembuktian:”amat cerah hari petang itu”(hal 9)



         5.2 Suasana

5.2.1 Tegang, Takut, kalimat pembuktian:
“Amboi, bunyi yang kami takutkan itu, kiranya “Cempedak hutan” yang baru jatuh…., mereka itu berjeritan dan bersiap hendak lari, tetapi kaki mereka itu tak dapat lagi diangkatnya, sebab sudah kaku karena ketakutan”.(hal 19



5.2.2 Sedih, kalimat pembuktian:

“Permintaan itu dikabulkan oleh mereka itu. Pak Midun berkatabdengan air mata berlinang-linang, katanya, “baik-baik engkau di negeri orang, Midun”(hal 83)


Halaman 14
5.2.3 Bahagia, kalimat pembuktian:

“Mendengar perkataan itu hampir tidak dapat Midun menjawab, karena sangat girang hatinya mendengar kabar itu. “(hal 117)

5.2.4 Kepanasan, kalimat pembuktian:

“Hari amat panas,angin berhembus lunak lembut” (hal 145

5.2.5 Senang,kalimat pembuktian:
“Terima kasih banyak tuan,ujar midun dengan girang”(hal 186)




5.3 Tempat

5.3.1Surau,
kalimat pembuktian :”ia telah menjadi guru tua(pembantu)di surau”(hal 11)

5.3.2 Kampong,
kalimat pembuktian:”sudah itu maksudnya hendak terus pulang ke kampong(hal 75)

5.3.3Di pacuan kuda,
kalimat pembuktian:”dengan tidak diketahui mereka kedua,sampailah ke pacuan kuda(hal 78)

5.3.4 Padang,
kalimat pembuktian:”oleh sebab itu tadi saya mohonkan kepada sipir,supaya engkau tidak dibelenggu ke padang”(hal 86)
Halaman 15

5.3.5 Bogor
kalimat pembuktian:”saya berharap jika udo ada belas kasihan kepada saya,tolonglah saya antarkan ke betawi,kepada bapak saya di bogor”(hal 119)



6. Sudut Pandang
Sudut pandang yang terkandung dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati adalah:

6.1 Sudut Pandang mahakuasa
Kalimat pembuktian:”ketika midun tercengang-cengan memperhatikan pintu gerbang itu,tampak olehnya huruf yang dibuat dengan air mas”(hal 71)

7. Gaya Bahasa

       7.1   Majas perumpamaan
Kalimat pembuktian:”jangankan ia terempas,melainkan seakan-akan tak menjejak tanah ia rupanya”(hal 59)
      7.2    Majas hiperbola
               Kalimat pembuktian:”hatinya tertarik kepadamu”(hal 135)
      7.3    Majas metafora
                Kalimat pembuktian:”sambut,si pengamuk dari darat”(hal 92)
      7.4     Majas  personifikasi
                Kalimat pembuktian:”akhirnya suami itu seperti sirih kerap tumbuh di batu”(hal 142)
      7.5     Majas antiklimaks
                Kalimat pembuktian:”kilat belitung sudah ke kaki,kilat cermin sudah ke muka”
               (hal 53)
Halaman 16
BAB IV
UNSUR EXSTRINSIK


Unsur exstrinsik yang terkandung pada novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati adalah

4.1 Moral
-          Moral baik


-          Baik budi
Kalimat pembuktian:”sungguh amat baik benar budi bahasa orang belanda itu”(hal 133)
-          Memberikan uang
Kalimat pembuktian:”perempuan itu memberikan uang kepada midun”(hal 108)
-          Beriba hati
Kalimat pembuktian :”ujar halimah yang beriba hati”(hal 110)


-          Moral buruk

-          Perkataan tidak senonoh
Kalimat pembuktian:”hai anjing,berani engkau menggantikan tempat duduk saya?,ayuh pergi”(hal 980
-          Ingin membunuh
Kalimat pembuktian:”ia dapat berlaku akan membinasakan kita”(hal 78)
Halaman 17


-          Berkelahi
Kalimat pembuktian:”polisi bekerja keras untuk memadamkan perkelahian itu”(hal 81)

4.2 Nilai Agama
-     Insya allah
      Kalimat pembuktian:”insya allah akan saya periksa dengan sepatutnya,hingga menenagkan hati tuanku”(hal 52)
-          Pernikahan
Kalimat pembuktian:”benar agama mengizinkan beristri lebih dari satu sampai empat”(hal 143)

-          Berkehendak tentang agama
Kalimat pembuktaian:”bahkan jika halimah kehendaki saya masuk orang islam pun saya suka”(hal 137)


4.2 Budaya

-          Berkasidah
Kalimat pembuktian:”terdengar suara orang berkasidah(bernyanyi cara arab)yang hampir dilakukan setiap hari”(hal 9)
-          Kenduri
Kalimat pembuktian:”begini maun!waktu kenduri di mesjid tempo hari,bukankah engkau duduk dengan saya”(hal 10)
-          Tolong menolong
Kalimat pembuktian:”sudah umum pada orang kampong itu,manakala ada pekerjaaan berat suka bertolong-tolongan
           

Halaman 18


BAB V
KESIMPULAN

Setelah mengemukakan sebuah masalahyang dikemukakan dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati.Maka penulis mencoba menyimpulkan dan member saran

5.1 Kesimpulan 
1) Tema dalam novel ini adalah  Kehidupan seorang pemuda
2) Amanat yang terdapat dalam novel tersebut adalah
1) Harus berterima kasih apabila diberi pertolongan
2) Jangan menuruti kemarahan
3) Kalau menerima sesuatu jangan menolaknya
4) Harus menghormati adat istiadat setempat
5) Jangan takut apabila kita benar
3) Penokohan atau perwatakan yang terdiri dari
1) Midun
-    Sopan santun
-    Tabah
 2) Kacak
                                       -     Pemarah
-     Sombong
3) Haji Abbas
-    Arif/bijaksana
                      -    Pemberani


Halaman 19
4) Halimah
-    Cantik
                -     Pandai
       

5) Pak midun
-     Arif
-     Ramah

4) Alur yang digunakan adalah alur maju karena menceritakan dua bulan maun dipanggil ke bukitinggi

5) Setting yang digunakan adalah latar tempat,waktu dan suasana
a) latar tempat
    -  Surau
                  -  Kampong
- Di pacuan kuda
- Padang
                                 - Bogor
b)latar waktu
- Waktu Asar
- Hari ahad pagi-pagi
- Malam hari
- Waktu maghrib
-  Hari petang





Halaman 20

c) latar suasana
- Tegang, Takut
- Sedih
- Bahagia
- Kepanasan,
- Senang


6) Sudut pandang yang dipergunakan dalam novel ini adalah mahakuasa
7) Dari unsure exstrinsik yang terdapat dalam novel ini adalah
a. moral
­- baik
1)      Baik budi
2)      Memberikan uang
3)      Beriba hati
- buruk
1)   Perkataan tidak senonoh
2)   Ingin membunuh
3)   Berkelahi
b. agama
- Insya allah
- Pernikahan
- Berkehendak tentang agama






Halaman 21
c. budaya
- Berkasidah
- Kenduri
- Tolong menolong




5.2 Saran – saran
Pada bagian ini,penulis menyampaikan saran yang berkenan dengan novel.Saran-saran tersebut sebagai berikut:

1)      Siswa diharuskan membaca novel sastra agar dapat megetahui dan meyukai berbagai macam sastra
2)      Guru juga mengajarkan karya sastra juga agar banyak siswa yang mengetahui karya sastra
3)      Novel sastra dapat dipergunakan untuk bahan bacaan sehari-hari










Halaman 22

DAFTAR PUSTAKA

 Sati,tulis sutan:1929: Sengsara Membawa Nikmat: Jakarta: balai pustaka




















Halaman 23

1 komentar: